5
toko yang dikelola
Toko bertambah dari 2 menjadi 5, masing-masing dengan karakter dan produk berbeda.

Dari data ke keputusan.

Operasional multi-toko.


SOP dan KPI.

AI dan automation.
E-commerce, marketplace & growth. Sebagian besar terbentuk di Shopee: dari 2 toko menjadi 5, termasuk 2 Shopee Mall. Founder Visionur, tempat saya berbagi pelajaran dari marketplace.
Saya mulai dari menjalankan toko sendiri. Dari situ saya belajar pelan-pelan soal market, produk, data, funnel, dan iklan, lalu soal sistem, tim, dan keputusan bisnis.
Angka dan hasil dari pengalaman mengelola toko di PT AQWAM Media Profetika, sejak Februari 2024.
5
Toko bertambah dari 2 menjadi 5, masing-masing dengan karakter dan produk berbeda.
2
Dua dari lima toko berhasil berkembang hingga masuk Shopee Mall.
Rp2–3M
Di titik puncak per bulan.
Rp300jt
Tim yang saya bimbing sampai mampu menghasilkan penjualan sendiri.
GMV adalah total nilai penjualan toko, bukan pendapatan pribadi saya.
Gabungan 5 toko saat kampanye 9.9, 9 September 2026 sampai pukul 20.39. 1.929 pesanan. Ini hari puncak, bukan rata-rata harian.
Toko 1. 797 pesanan dari 22.419 pengunjung, konversi 6,91%.
Toko 2. 599 pesanan dari 30.919 pengunjung, konversi 7,40%.
Toko 3. 307 pesanan dari 6.107 pengunjung, konversi 4,66%.
GMV di atas adalah beberapa bukti GMV yang dihasilkan dari 5 toko yang saya pegang.
Sumber: dashboard gabungan dan Shopee Seller Centre, 9 September 2026. Angka dashboard gabungan dan Seller Centre tidak sama karena kedua alat menghitung penjualan dengan cara berbeda, jadi jumlah ketiga toko bisa berbeda dari angka gabungan. Nama toko dan produk disamarkan.
Ada fase mulai sendiri, ada fase berhenti, lalu ada fase ketika saya kembali dan benar-benar belajar bagaimana sebuah toko dibangun dari nol.
2020
Saya menjalankan produk digital dan jasa media sosial di Shopee secara mandiri, tumbuh secara organik. Di sini saya pertama kali merasakan bagaimana mencari produk, mencari pembeli, dan mendapat penjualan tanpa mengandalkan iklan.
Jeda
Perjalanan itu sempat saya hentikan untuk menyelesaikan kuliah dan membangun keluarga.
Februari 2024
Saya kembali ke e-commerce secara penuh dan membangun operasional toko dari nol, dimulai dari 2 toko.
2 → 5 toko
Toko bertambah menjadi 5, masing-masing dengan karakter dan produk berbeda: buku anak, Al-Qur'an, dan buku Islam dari imprint PT AQWAM. Di fase ini saya belajar operasional, market, produk, iklan, forecasting, dan affiliate sekaligus.
Shopee Mall
Dua dari lima toko berhasil berkembang hingga masuk Shopee Mall.
Sistem
Ketika toko makin besar, pekerjaan tidak bisa terus bergantung pada satu orang. Saya menyusun SOP, KPI, dan alur kerja, lalu membimbing tim sampai mampu menghasilkan penjualan sendiri.
Puncak
Titik ketika kelima toko berjalan bersamaan pada skala tertingginya, dengan SOP, KPI, dan tim yang sudah terbentuk.
Sekarang
Perhatian saya mulai bergeser ke satu hal: bagaimana AI dan automation bisa membuat pekerjaan yang sudah berjalan jadi lebih sederhana, cepat, dan terukur.
TUGAS
Dulu fokus saya memastikan pekerjaan selesai.
KEPUTUSAN
Semakin lama, pertanyaan yang saya ajukan berubah:
Bukan metode baku, tapi pola yang terbentuk dari berkali-kali menghadapi masalah toko. Yang paling sering saya ulang adalah langkah 06: apa yang berhasil, saya jadikan sistem.
01 Definisikan masalah. Masalah sebenarnya apa, bukan gejalanya.
02 Baca data. Angka apa yang berubah, dan sejak kapan.
03 Susun hipotesis. Dugaan yang bisa dibuktikan benar atau salah.
04 Uji. Ubah satu hal, beri waktu dan volume yang cukup.
05 Pelajari. Hasilnya sesuai dugaan atau tidak, dan kenapa.
06 Sistemkan. Yang berhasil dijadikan SOP, template, atau tool.
07 Scale. Dikembangkan setelah hasilnya konsisten.
Ini daftar yang saya periksa saat membaca data sebuah toko (langkah 02 di atas). Semakin lama mengelola toko, saya semakin jarang melihat masalah dari satu angka. Gulir atau pilih satu tahap untuk melihat pertanyaannya.
Empat pekerjaan yang paling menggambarkan cara saya bekerja: masalahnya apa, apa yang saya lakukan, hasilnya, dan apa yang saya pelajari.
Tool yang lahir dari masalah nyata di pekerjaan.
Ini versi ringkasnya. Angka awal hanya contoh, silakan ganti.
Terbiasa memegang beberapa toko sekaligus, dari listing sampai pesanan yang bermasalah.
Membaca angka toko dan iklan, lalu mencari tahu kenapa angkanya seperti itu.
Kalau sebuah pekerjaan terus berulang, saya coba jadikan SOP, laporan, atau tool.
Menerjemahkan target jadi pekerjaan yang jelas untuk tim, lalu membimbing orangnya.
Masih terus belajar: AI untuk membantu berpikir, automation untuk pekerjaan yang berulang.
Kebiasaan kerja yang terbentuk dari mengelola banyak toko dan tim, dan bisa dibawa ke organisasi yang lebih besar.
Buat saya, AI bukan pengganti fundamental bisnis. AI membantu saya lebih cepat membaca informasi, berpikir, menyusun sistem, dan menjalankan pekerjaan yang berulang.
Saya bukan AI engineer. Saya praktisi e-commerce yang sedang membangun kemampuan AI untuk memperkuat pekerjaan yang sudah saya pahami.
Sambil itu, saya juga membangun

Tempat saya berbagi dan mengembangkan pemikiran dari pengalaman bermain di marketplace.
Visionur lahir dari hal-hal yang saya temui di lapangan: penalti toko, kompetitor yang agresif, iklan yang terlihat bagus tapi ternyata rugi. Di sini saya merapikan pelajaran itu dan membagikannya ke sesama seller. Bukan untuk menggurui, tapi untuk berbagi pengalaman dan uneg-uneg seller.
Strategi tepat, orderan berlipat.
Tools yang pernah menjadi bagian dari pekerjaan saya.
Saya tidak menganggap tools sebagai skill utama. Yang lebih penting adalah tahu masalah apa yang ingin diselesaikan, lalu memilih tools yang memang membantu.
Area yang paling dekat dengan pengalaman dan arah belajar saya.
S1 Ilmu Hukum
Latar belakang saya bukan marketing atau bisnis. Buat saya, belajar hukum melatih cara berpikir terstruktur, membaca konteks, memperhatikan detail, dan menyusun argumen, yang ternyata terpakai setiap hari saat membaca data toko.
Kalau ada yang ingin dibicarakan, soal pekerjaan, project, atau sekadar bertukar pengalaman, pintunya lewat LinkedIn atau email.